Habajino.news |Aceh Selatan, — Pemuda Mahasiswa Sawang (PM-HIMMAS), Riski, melontarkan kecaman keras terhadap keputusan Bupati Aceh Selatan yang tetap memilih berangkat umrah di saat daerah sedang berada dalam kondisi darurat banjir dan ribuan warganya sedang berjuang menyelamatkan hidup.
Ketika rakyat kehilangan rumah, kekurangan pangan, dan terkatung-katung di pengungsian tanpa kepastian, pemerintah daerah justru lebih dulu mengibarkan “bendera putih” sebagai tanda menyerah dalam penanganan bencana. Namun yang jauh lebih memalukan, setelah menyatakan tidak sanggup, bupati malah memilih meninggalkan daerah dan terbang ke tanah suci.
Ini bukan soal ibadah, ini soal lari dari tanggung jawab. Daerah dinyatakan darurat, bendera putih sudah dikibarkan, tetapi pemimpinnya justru menghilang dari medan krisis. Ini preseden buruk bagi kepemimpinan.
PM-HIMMAS menilai peristiwa ini sebagai kegagalan moral yang nyata dan bukti krisis kepemimpinan di Aceh Selatan. Dalam situasi genting, kehadiran bupati bukan simbolik, tetapi kunci utama dalam memastikan distribusi bantuan berjalan, evakuasi terkendali, dan penderitaan rakyat tidak berlarut-larut.
Dalam pandangan Islam, menolong korban bencana adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Umrah adalah ibadah sunnah yang bisa ditunda. Ketika pemimpin lebih mendahulukan ibadah pribadi daripada keselamatan rakyatnya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kebijakan, tetapi juga nurani.
Amanah kepemimpinan bukan sekadar jabatan untuk dinikmati, melainkan sumpah yang harus ditebus dengan keberpihakan kepada rakyat. Hari ini, rakyat Aceh Selatan tidak hanya dilanda banjir, tetapi juga ditinggalkan oleh pemimpinnya sendiri.












