Kabut kelam masih menyelimuti ingatan 26 November 2025. Air bah datang tanpa ampun, menggulung rumah, melumpuhkan fasilitas umum, dan merenggut rasa aman. Lumpur bukan hanya menutup jalan dan halaman, tetapi juga menyesakkan dada banyak keluarga di Pidie Jaya. Dalam sekejap, kehidupan yang biasa berubah menjadi perjuangan.
Namun, di tengah puing-puing keputusasaan itu, lahir sebuah cahaya yang jauh lebih kuat dari air bah yang bernama “cahaya solidaritas”.
Minggu lalu, di Kompleks Masjid Agung Tgk Chik Pante Geulima, kita menyaksikan pemandangan yang tidak akan mudah dilupakan. Bukan genangan air, melainkan kumpulan manusia. Mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry, para kader ormas, masyarakat Gampong Ulee Gle, Jeulanga Mata Ie, dan gampong-gampong lainnya, berdiri sejajar dengan pemerintah daerah. Tidak ada jarak jabatan. Tidak ada sekat status. Yang ada hanya satu tujuan yaitu bangkit bersama.
Mereka menyapu lumpur, mengangkat karung, menata kembali yang hancur. Tetapi sesungguhnya, yang mereka bangun bukan hanya dinding dan jalan mereka sedang membangun kembali harapan.
Inilah gotong royong dalam makna paling murni.
Sebuah harmoni antara pemerintah, organisasi masyarakat, organisasi profesi, mahasiswa, dan rakyat gampong. Sebuah warisan leluhur yang kembali hidup, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai tindakan nyata.
Toke Land Pijay 2 Prabot, relawan sekaligus korban dari Gampong Dayah Usen, menyentuh hati kita dengan
pesannya:
“Janganlah kita menjadi cicak dalam kondisi kritis ini.”
Kalimat sederhana, namun mengguncang nurani.
Kita bukan makhluk yang hanya menyelamatkan diri sendiri. Kita adalah burung pipit yang membawa setetes air, semut yang menggotong beban bersama, lebah yang bekerja tanpa pamrih. Setetes kontribusi, bila disatukan, menjelma menjadi samudera kekuatan.
Keuchik Mukhlisuddin dari Gampong Ulee Gle pun memberi teladan arti kepemimpinan sejati yang telah terlibat aktif dalam mengurangi beban saudara kita hingga ke langkahan daerah terparah di Aceh Utara. Ia mengajak keuchik-keuchik dari gampong yang tidak terdampak untuk ikut turun tangan. Karena bencana ini bukan milik satu desa. Ini adalah luka Pidie Jaya. Dan luka hanya bisa sembuh jika dirawat bersama.
Gerakan ini diinisiasi oleh Masyarakat Pidie Jaya Peduli (MPP), disokong oleh para dermawan lokal, saudara-saudara WNI Aceh di Australia melalui Pengajian MTRI Sydney, serta dukungan logistik dari Asar Humanity. Jarak ribuan kilometer pun tak mampu memutus ikatan kemanusiaan.
F. Razi, sang inisiator, mengingatkan kita pada dua senjata pamungkas bangsa Indonesia adalah Musyawarah Mufakat dan Gotong Royong.
Dua kekuatan inilah yang dahulu membuat gentar Portugis, Belanda, dan Jepang. Mereka bisa menguasai wilayah, tetapi tak pernah mampu menaklukkan persatuan rakyat.
Pepatah Aceh mengajarkan dengan bijak:
“Asai ka pakat, lampoh jeurat ta peugala.”
Jika kita sepakat, tanah kuburan pun kita gadaikan.
Betapa agung makna yang tersirat dalam hadis maja ini. Bila sesuatu sudah disepakati bersama maka hal yang dianggap mustahilpun mampu kita lewati bersama.
Gotong royong bukan sekadar membersihkan lumpur. Ia adalah tentang membajak hati yang beku, menanam harapan, dan memanen kebangkitan.
Hari ini, Pidie Jaya tidak meminta belas kasihan.
Pidie Jaya hanya memanggil persaudaraan.
Maka kami mengetuk hati setiap anak bangsa di Pidie Jaya, di Aceh, di seluruh Indonesia:
Mari hadir, walau hanya dengan langkah kecil.
Mari bergerak, walau hanya dengan satu tenaga.
Mari peduli, baik dengan harta, pikiran, tenaga dan walau hanya dengan satu doa.
Karena dari tetes-tetes kecil itulah, lahir lautan kebangkitan.
Bencana boleh datang.
Lumpur boleh mengubur jalan.
Air boleh menenggelamkan rumah.
Tetapi selama musyawarah dan gotong royong tetap hidup, tidak ada yang mampu menenggelamkan martabat rakyat Pidie Jaya.
Bersama kita bangkit.
Gotong royong adalah napas kita.
Pidie Jaya, Aceh, Indonesia Bangkit dengan bermartabat.






